Minggu, 15 Januari 2017

Sejarah Singkat Kilang pertamina RU II Dumai



Pertamina RU II Dumai terdiri dari dua kilang, yaitu kilang Putri Tujuh di Dumai dan kilang Sei Pakning. Kilang Putri Tujuh PERTAMINA RU II Dumai sendiri dibangun pada bulan April 1969 atas dasar persetujuan Turn Key Project antara pihak Pertamina dengan pihak Far East Sumitomo Japan. Pembangunan kilang RU II Dumai ini dikukuhkan dalam surat keputusan Direktur Utama PERTAMINA No.33345/Kpts/DM/1967. Untuk pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh kontraktor asing yaitu Ishikawajima Harima Heavy Industries (IHHI). Kontraktor tersebut melakukan pekerjaan pembuatan kilang Crude Distilation Unit (CDU) dan fasilitas Penunjang Pembangkit Tenaga (Utilities), TAESEI melakukan pekerjaan konstruksi, yaitu membuat fasilitas penunjang operasi lainnya seperti tanki–tanki produksi, dermaga, pelabuhan khusus, dan perpipaan.
Refinery Unit II merupakan unit operasi pengolahan Pertamina terbesar di pulau Sumatera dengan memasok 23% kebutuhan minyak nasional. Saat ini wilayah kerja Refinery Unit II Dumai meliputi :

.1 Kilang Minyak Sungai Pakning
Kilang minyak ini dibangun pada November 1968 oleh Refining Associates
(Canada).Ltd atau Refican, selesai dan mulai berproduksi pada Desember 1969. Kilang minyak ini mulai beroperasi dengan kapasitas 25.000 barrel/hari. Pada September 1975 seluruh operasi kilang beralih dari kilang Refican kepada pihak Pertamina.
Kilang ini mengalami penyempurnaan secara bertahap.Kapasitasnya ditingkatkan dari 25.000 barrel/hari menjadi 35.000 barrel/hari pada tahun 1977. Pada tahun 1980 kapasitasnya ditingkatkan lagi menjadi 40.000 barrel/hari dan pada tahun 1982 kapasitas Kilang Minyak Sungai Pakning ditingkatkan menjadi 50.000 barrel/hari sesuai dengan desain saat ini.Konfigurasi Kilang Minyak Sungai Pakning ini sama dengan Konfigurasi Crude Distillate Unit (CDU) yang ada di Kilang Minyak dumai.

.2 Kilang Minyak Dumai
Kilang Minyak Dumai dibangun pada tahun 1969 dengan kapasitas 100.000 barrel/hari untuk memproses bahan baku minyak mentah Minas. Mulai beroperasi sejak diresmikan oleh Presiden R.I Soeharto pada tanggal 08 September 1971 dengan 2 unit proses yang meliputi: Topping Unit / Crude Distilling Unit (CDU) dan Gasoline Plant. Kilang Dumai mengolah minyak mentah menjadi: Gas, Gasoline / Premium, Kerosene, Automotive Diesel Oil (ADO), dan Low Sulfur Wax Residue (LSWR).
Seiring dengan kebutuhan minyak yang meningkat dan untuk memaksimalkan proses pengolahan crude oil menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi, maka dilaksanakan proyek perluasan kilang minyak Dumai dengan penambahan 11 unit proses yang dikenal dengan Hydrocracker Complex sehingga kapasitas kilang minyak Dumai naik menjadi 120.000 barrel/hari. Proyek perluasan kilang Dumai dimulai pada tahun 1981 dan setelah selesai pembangunannya diresmikan oleh Presiden RI Soeharto pada 7 tanggal 16 Februari 1984 dengan mengolah LSWR yang dihasilkan oleh Crude Distilling Unit (CDU) kilang Dumai dan kilang Sei Pakning.
Sebelum penambahan kilang baru, kilang lama hanya mampu mengolah minyak mentah menjadi BBM sebesar 37,73%, dengan rangkaian proses unit-unit kilang baru pada jumlah feed crude oil yang sama dapat dihasilkan BBM sebesar 93,84%, dan sisa pengolahan kilang baru (residu) digunakan sebagai Refinery Fuel (bahan bakar kilang) dan green coke yang menjadi produk primadona Refinery Unit II Dumai.
Pembangunan kilang minyak RU II Dumai dilaksanakan dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Lokasi kota Dumai yang terletak di tepi laut (Selat Rupat) dengan kondisi laut yang dalam dan tenang sehingga mudah untuk transportasi laut.
- Tersedianya areal yang dibutuhkan.
- Kebutuhan bahan bakar minyak yang terus meningkat.
- Tersedianya minyak mentah dari lapangan PT. CHEVRON.
Bahan baku yang diolah adalah minyak mentah produksi PT. CHEVRON Indonesia yang dihasilkan dari ladang minyak Duri (DCO) dan Minas (SLC) dengan perbandingan 85 % volume Minas Crude dan 15 % minyak Duri Crude.

Pada saat ini kilang Pertamina RU II Dumai beroperasi dengan kapasitas 130.000 barrel/hari. Sedangkan Pertamina RU II Sei Pakning yang menjadi satu sistem integrasi dengan kilang RU II Dumai, mengolah minyak mentah jenis Handil dan Lirik Crude yang merupakan produksi Pertamina Unit Eksplorasi (UEP) Lirik Riau dengan kapasitas desain 50.000 barrel/hari menghasilkan 8 produk yang sama dengan Crude Distilling Unit (CDU) pada kilang Dumai, sedangkan residu yang dihasilkan kilang Pertamina RU II Sei Pakning (LSWR) dikirim ke kilang Dumai untuk diolah di High Vacuum Unit (HVU).



Berdasarkan diagram alir konfigurasi unit proses pada Refinery Unit II Dumai dapat dilihat bahwa kilang minyak pada Refinery Unit II Dumai terdiri dari unit-unit proses yang saling berintegrasi antar satu unit dengan unit lainnya. Unit proses tersebut terdiri dari sebagai berikut :

  •  Unit Kilang Lama

Unit kilang lama terdiri dari :
 Hydro Skimming Complex (HSC)
HSC bertanggung jawab untuk mengoperasikan kilang unit proses seperti:
- Crude Distilling Unit.
- Platforming Unit.
- Naphtha Rerun Unit (Hydrobon)
- Naphtha Hydrocracker Unit.
- Platforming CCR (Continuous Catalytic Regeneration) Unit.

  •  Unit Kilang Baru

Unit kilang baru yang merupakan perluasan dari kilang lama dengan maksud untuk mengoptimalkan proses pengolahan crude oil yang terdiri dari :

 Hydro Cracking Complex (HCC)
HCC bertanggung jawa buntuk mengoperasikan kilang unit proses seperti:
- Hydro Cracking Unibon Unit.
- Hydrogen Plant Unit.
- Amine LPG Recovery Unit.
- Sour Water Stripper Unit.
- Nitrogen Plant Unit.
- Fuel Gas System Unit.
 Heavy Oil Complex (HOC).
HOC ( Heavy Oil Complex) mengolah long residu (LSWR) dari Crude Distillation Unit (CDU) kilang Dumai dan kilang Sei Pakning, bertanggung jawab mengoperasikan kilang unit proses seperti:
- High VacuumUnit (Unit-110).
- Delayed Coking Unit(Unit-140).
- Coke Calcined Unit (Unit-170).
- Distillated Hydro Treating Unit (Unit-220).
Seiring dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan produk yang semakin beragam, pada tahun 2007 dibangun proyek Lube Base Oil (LBO) kerja sama antara PT. Pertamina (Persero) RU II Dumai dengan SK Energy (Korea selatan) dalam perusahaan Joint Venture PT. Patra SK yang mulai beroperasi pada bulan April 2008 hingga sekarang.

2.2 Tugas dan Fungsi Bagian Heavy Oil Complex (HOC)
Heavy Oil Complex merupakan salah satu unit pada Refinery Unit II Dumai yang bertugas untuk mengolah minyak berat (Long Residu dan Short Residu) menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi, terdiri dari beberapa unit proses, antara lain :
2.2.1 High Vacuum Unit (HVU)
Unit ini berfungsi untuk mengolah Long Residue dari Crude Distiling Unit kilang Dumai dan Long Residu dari Crude Distiling Unit Sei Pakning dengan proses distilasi vakum menjadi produk seperti:
- Light Vacuum Gas Oil (LVGO) » komponen Solar
- Heavy Vacuum Gas Oil (HVGO) » umpan HC Unibon
- Short Residue » umpan DCU
2.2.2 Delayed Coking Unit (DCU)
Unit ini berfungsi mengolah short residue dari High Vacuum Unit (HVU) menjadi produk-produk seperti :
- Refinery Gas » fuel gas
- Liquified Petroleum Gas (LPG) » komponen LPG mix
- Naptha » umpan NHDT
- Light Coker Gas Oil (LCGO) » umpan DHDT
- Heavy Coker Gas Oil (HCGO) » umpan HC Unibon

- Green Coke » umpan Coke Calcining Unit


Senin, 09 Januari 2017

YANG DIKIRA SAMA, PADAHAL BEDA LOH..

Sama tapi Beda :

1. Perbedaan antara PENGERINGAN dan PENGUAPAN
Pengeringan (drying) : mengurangi kadar air dalam bahan padat / semi padat
  • Pengurangan air pada pengeringan lebih banyak dibanding penguapan
  • Media yg digunakan bisa berupa gas
  • Terjadi karena perbedaan konsentrasi air dipermukaan benda padat (jenuh) dengan udara luar (tidak jenuh) atau perbedaan tekanan antara permukaan bahan (besar) dengan udara luar (kecil) shg terjadi perpindahan massa dari permukaan benda ke udara.
      Penguapan (evaporasi) : pemisahan uap air dlm bentuk suatu campuran murni yg mengandung air relatif banyak
      • Pengurangan air lebih kecil dibanding pengeringan
      • Dipisahkan dg media pemanasan pada titik didihnya
      "1. The differences of Drying and Evaporation
      Drying : to reduce the water in solid material / semi solid
      • Reduce water in drying more than evaporation
      • Media is gas
      • Occur because difference of water concentration in the surface of solid material (saturated) with outside air (unsaturated) or difference pressure between material surface (large) with outside air (small) so occur mass transport from material surface to the air
      Evaporation : separation water vapor in pure mixture content much relative water
      • Reduce water less than drying
      • Separated by heating media at boiling point"
          2. Perbedaan antara EVAPORATOR dan DRYER
          Evaporator : alat yg berfungsi menguapkan sebagian kandungan air berdasarkan titik didihnya
          Dryer          : alat yg berfungsi mengeringkan total kandungan air dalam bahan, shg didapat kandungan air yg sangat minim dari bahan tsb
          "2.  The differences of  Evaporator and Dryer
          Evaporator : instrument have function evaporation partial water content at boiling point
          Dryer          :  instrument have function drying total water content in material, so will got minim water content from that material" 

          3. Perbedaan antara SEPARATOR dan SPLITTER
          Separator : alat utk memisahkan salah satu komponen sehingga komponen akhir berbeda komposisi dari awal, jadi ada komponen yg diinginkan dan ada pengotor
          Splitter      :  alat utk memisahkan salah satu komponen dan antara komponen yg dipisahkan tdk berbeda komposisi, jadi intinya cuma dipecah saja alirannya.
          "3.  The differences of Separator and Splitter 
          Separator : instrument to separation one of component so final component different with inisial, so there is component is required and impurities
          Splitter     : instrument to separation one of component and between separated component does not different composition, so only be broke flow" 

          4. Perbedaan antara VAPORATOR dan EVAPORATOR
          Vaporator   : alat utk mengurangi kandungan liquid (bukan hanya air) dalam bahan berdasarkan volatilitasnya
          Evaporator :  alat utk mengurangi kandungan liquid (hanya air) dalam bahan berdasarkan titik didihnya
           "4.  The differences of  Vaporator and Evaporator 
          Vaporator   : instruments to reduce liquid content (no just water) in substances by their volatility
          Evaporator : instrument to reduce liquid content (water only) in substances by their boiling point

          5. Perbedaan antara HEATER / COOLER dan HEAT EXCHANGER
          Heater / Cooler  : penukar panas yg menggunakan media pemanas / pendingin yg berasal dari utilitas (steam, cooling water dll)
          Heat Exchanger : penukar panas yg menggunakan heat loss dari alat lain / memanfaatkan energi dari proses alat lain.
          "5.  The differences of  Heater / Cooler and Heat Excahanger 
          Heater / Cooler  : instrument like heat exchanger using heating / cooling media come from utilities (steam, cooling water etc)
          Heat Exchanger : instrument to heat exchanger using heat loss from other instruments / using energy from process of other instruments"

          6. Perbedaan antara KOMPRESOR, BLOWERdan FAN 
          Kompresor : penggerak udara dengan tekanan tinggi
          BLOWER    : penggerak udara dengan tekanan sedang
          Fan              : penggerak udara dengan tekanan rendah
          "6.  The differences of  Compresor, Boiler and Fun 
          Compressor : air mover with high pressure
          Boiler           : air mover with moderate pressure
          Fun              : air mover with small pressure"

          7. Perbedaan antara SILO, VESSEL dan BIN
          Silo      : tempat penampung bahan yg berukuran besar, biasanya di akhir proses sebelum packaging
          Vessel :  tempat penampung bahan yg berukuran sedang, biasanya utk reaktor, mixer
          Bin       :  tempat penampung bahan yg berukuran kecil, biasanya utk penampungan sementara bahan yg akan masuk ke alat utama
          "7. The differences of Silo, Vessel and Bin 
          Silo     : place a large size container, commonly used in final process before packaging
          Vessel :   place a moderate size , commonly for reactor, mixer
          Bin      :   place a small size , commonly for temporary container of material will go into main instrument"

          8. Perbedaan antara PENGUAPAN dan PENDIDIHAN
          Penguapan : 
          • proses terjadi pada permukaan zat cair
          • tekanan zat cair pada permukaan benda >>> tekanan udara luar
          Pendidihan : 
          • proses tjd pada seluruh bagian volume air
          • tekanan zat cair pada permukaan benda = tekanan udara luar
          "8.  The differences of Evaporation and Boiling 
          Evaporation :  
          • process occuring on liquid surface
          • liquid pressure on the surface material >>> outside air pressure
          Boiling         :   
          • process occuring at all parts water volume
          • liquid pressure at surface material = outside air pressure"

          9. Perbedaan antara PENGADUKAN dan PENCAMPURAN 
          Pengadukan (agitation) : suatu operasi yg menyebabkan bahan bergerak acak dari satu bahan ke bahan lain, shg mengurangi ketidaksamaan komposisi dan sifat lainnya
          Pencampuran (mixing)  : suatu operasi yg menyebabkan  bahan bergerak acak dari satu bahan ke bahan lain, dimana bahan terpisah dalam 2 fase / lebih
          "9.  The differences of Agitation and Mixing 
          Agitation : an operation that causes material to move randomly from one material to another material, so reduce unequality composition and other properties
          Mixing    : an operation that causes material to move randomly from one material to another material , which material is separated in 2 phases or more." 

          10. Perbedaan antara YIELD, RENDEMEN, KONVERSI, SELECTIVITY
          Yield          : perbandingan antara massa produk dengan massa bahan awal
          Rendemen : perbandingan antara massa produk dengan massa awal (per berat kering atau per berat basah)
          Konversi    : perbandingan mol reaksi dengan mol mula-mula
          Selectivity  : perbandingan antara mol / massa produk tertentu dengan mol / massa produk lain
          "10.  The differences of Yield, Rendemen, Conversion and Selectivity 
          Yield            : comparation between product mass to the first material mass
          Rendemen   : comparation between product mass to the first material mass (per dry weight or wet weight)
          Conversion : comparation reaction mole with first mole
          Selectivity   : comparation between specific product mass / mole with other product"

          11. Perbedaan antara BY PASS, RECYCLE dan PURGE
          By Pass : proses aliran yg melewati 1 tahapan atau lebih menuju proses aliran berikutnya, jadi aliran melompat shg lebih singkat
          Recycle   : mengembalikan zat yg masih digunakan ke proses aliran awal
          Purge      : membuang akumulasi inert yg tdk diinginkan, karena jika tdk dikeluarkan akan tertimbun di aliran recycle
          "11.  The differences of By Pass, Recycle and Purge
          By Pass  : process that flow through one or more step to next flow process, so stream jump and shorter path
          Recycle  : return the material that are used to start flow process
          Purge    : remove inert accumulation is unwanted, because if not be released will be burried in recycle flow"

          12. Perbedaan antara KOAGULASI dan FLOKULASI 
          Koagulasi : proses destabilisasi koloid dan partikel dg menggunakan koagulan yg menyebabkan pembentukan inti gumpalan
          Flokulasi    : proses penggabungan inti flok shg menjadi lebih besar
          "12.  The differences of Coagulation and Flocculation 
          Coagulation : destabilization of colloid and particle  process by using coagulant that causes formation nuclei granules
          Flocculation : process of fusion for larger flock nuclei"

          13. Perbedaan antara ABSORPSI dan STRIPPING
          Absorpsi : proses pengikatan gas oleh zat cair
          Stripping : proses pengikatan zat cair oleh gas
          "13.  The differences of Absorption and Stripping 
          Absorption : process bond of gas by liquid
          Stripping    :  process bond of liquid by gas 

          14. Perbedaan antara MIXER dan AGITATOR 
          Mixer    : alat yg berfungsi melakukan pengadukan antar bahan
          Agitator : fungsi seperti mixer tapi mempunyai banyak fungsi tambahan seperti (memasukkan partikel padat ke fluida, dispersi gas sbg penggelembung dlm liquida, emulsifikasi, dan menaikkan perpidahan panas antar fluida)
          "14.  The differences of Mixer and Agitator 
          Mixer     : instrument have function to blending between material
          Agitator : function like mixer but has many add function such as (enter solid particle to fluid, gas dispersion as bubbler in liquid, emulsification and raise heat transpor between fluid)"

          15. Perbedaan antara DESIKATOR dan EKSIKATOR 
          Desikator : alat pengering yg dibawahnya ada zat (desikan) utk mengikat air
          Eksikator : alat pengering bentuk mirip desikator yg dibawahnya tdk ada zat pengering
          "15.  The differences of Desiccator and Eksiccator 
          Desiccator : dryer instrument which bottom there is drying substances (desiccant) to bond the water
          Eksiccator :  dryer instrument same with desiccator which bottom there is not drying substances"  


          16. Perbedaan antara MASSA dan BERAT 
          Massa : ukuran beban dari suatu material dimanapun nilainya sama, dilambangkan (m), termasuk besaran pokok dan satuannya kilogram
          Berat   :  ukuran beban dari suatu material yg nilainya berubah-ubah antar tempat tergantung nilai percepatan gravitasi, dilambangkan (w) = massa (m) x percepatan gravitasi (g), termasuk besaran turunan dan satuannya Newton

          17. Perbedaan antara MASSA JENIS dan BERAT JENIS 
          Massa Jenis : kerapatan suatu zat yg dihitung berdasarkan rumus massa jenis (ρ) = massa (m) / volume (v)
          Berat Jenis   : kerapatan suatu zat yg dihitung berdasarkan rumus berat jenis (s) = berat (w) / volume (v)

          18. Perbedaan antara KECEPATAN dan KELAJUAN
          Kecepatan : hasil perhitungan dari kecepatan (v) = perpindahan (x) / waktu (t)
          Kelajuan    :  hasil perhitungan dari kecepatan (v) = jarak (s) / waktu (t)

          19. Perbedaan antara JARAK dan PERPINDAHAN 
          Jarak            : jumlah lintasan total dari suatu perjalanan
          Perpindahan : pertemuan titik awal dengan titik akhir dari suatu perjalanan

          20. Perbedaan antara HEAT dan HOT 
          Heat : panas yg timbul sbg energi dan mempunyai satuan Joule
          Hot   : panas yg dirasakan oleh indera, tidak mempunyai satuan

          21. Perbedaan antara TITIK LELEH dan TITIK LEBUR 
          Titik Leleh : keadaan (suhu) dimana fase padat berubah menjadi fase cair pada kondisi tekanan atmosfer dan komposisi keduanya dalam kesetimbangan (hampir sama)
          Titik lebur : keadaan (suhu) dimana fase padat berubah menjadi cair

          22. Perbedaan antara NORMALITAS, MOLARITAS dan MOLALITAS 
          Normalitas : jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam 1 liter larutan
          Molaritas     : jumlah mol terlarut dalam 1 liter larutan
          Molalitas      : mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut

          23. Perbedaan antara AIR (WATER) dan AQUADES 
          Air (Water) = air biasa dari sumber mata air langsung, masih banyak mengandung ion-ion logam. Baik utk kesehatan karena kaya mineral tapi tdk baik utk proses kimia, karena ion logamnya bisa mengganggu jalannya reaksi kimia dan bisa menyebabkan kerak / korosi pada perpipaan
          Aquades : air yg sudah dihilangkan ion-ion logamnya, penghilangan biasanya menggunakan ion exchanger. Baik utk prose kimia tapi tdk baik utk minuman kesehatan

          Kamis, 07 April 2016

          Kilang-Kilang Minyak Milik Pertamina

          ENAM KILANG MINYAK MILIK PERTAMINA

            Minyak bumi dalam keadaan masih mentah hanya memiliki sedikit nilai tambah, dan pengolahan minyak mentah sangat diperlukan untuk menghasilkan produk yang cocok untuk konsumen (Priestley, 1973).

            Refinery atau kilang pada dasarnya adalah sekelompok 'pabrik' yang bervariasi dalam jumlah dan juga bervariasi dalam berbagai produk yang dihasilkan. Artinya, dalam satu kilang dapat mencakup satu atau lebih proses produksi dan dapat menghasilkan satu atau lebih produk.


          Peta Lokasi Kilang-Kilang Milik Pertamina
          Peta Lokasi Kilang-Kilang Milik Pertamina
                     Lalu, di mana sajakah kilang-kilang milik Pertamina yang mengolah minyak mentah dari perut bumi Indonesia? Berikut rincian yang dapat dikumpulkan oleh penulis.

          1. UP-II Dumai (Riau)

          Refinery Unit II Dumai
          Refinery Unit II Dumai

                  Disebut UP karena merupakan singkatan dari Unit Produksi, sedangkan disebut RU karena singkatan dari Refinery Unit. UP-II Dumai ini terletak di propinsi Riau dan dioperasikan sejak tahun 1971. Dengan kapasitas mencapai 170.000 BPSD (barrel per stream day), UP-II Dumai memasok 15,82% total produksi dalam negeri. Berbagai produk hasil pengolahan minyak mentah dari unit Dumai sudah banyak dinikmati masyarakat Indonesia dan manca negara. Hasil pengolahan UP-II Dumai antara lain:

                  A. BBM dan BBK yaitu :
                      1. Aviation Turbine Fuel
                      2. Minyak Bakar
                      3. Minyak Diesel
                      4. Minyak Solar
                      5. Minyak Tanah

                B. Non BBM yaitu :
                      1. Solvent
                      2. Green Coke
                      3. Liquid Petroleum Gas

          2. UP-III Musi (Plaju dan Sungai Gerong)

          Refinery Unit III Plaju
          Refinery Unit III Plaju
                  UP-III Musi berlokasi di Sumatera Selatan di dua wilayah yaitu Plaju dan Sungai Gerong. Sejarah panjang kilang ini diawali sejak tahun 1885 saat ditemukannya sumur minyak di Telaga Tunggal. Tahun 1903, Shell, perusahaan minyak milik Belanda mendirikan kilang di Plaju. Dua puluh tiga tahun berselang, Stanvac dari USA mendirikan kilang Sungai Gerong.
                      Kepemilikkan kilang Plaju berpindah tangan ke pemerintah Indonesia sejak tahun 1965 saat Pertamina membelinya dari Shell. Tak lama kemudian, tahun 1970 Pertamina membeli kilang Sungai Gerong dari tangan Stanvac. Integrasi kedua kilang ini dilakukan pada tahun 1972.
                        Saat ini UP-III Musi memiliki kapasitas 133.700 BPSD (12.45% total produksi dalam negeri) dengan berbagai produk antara lain :
                  A. BBM yaitu :
                      1. Avtur
                      2. Premium
                      3. Kerosene
                      4. Pertamax Racing Fuel
                      5. Automotive Diesel Oil (ADO)
                      6. Industrial Diesel Oil (IDO)

                 B. Non-BBM yaitu :
                      1. Liquid Petroleum Gas
                      2. Musi Cool (Refrigerant)
                      3. Low Sulphur Waxy Residu (LSWR)
                      4. Bijih Plastik Polytham (polyprophylene)

          3. UP-IV Cilacap

          Refinery Unit IV Cilacap
          Refinery Unit IV Cilacap
                UP-IV Cilacap berlokasi di Jawa Tengah bagian selatan merupakan satu dari dua kilang Pertamina yang berlokasi di pulau Jawa. Kilang ini merupakan unit dengan produksi paling besar diantara kilang yang lain sekaligus menghasilkan produk turunan dengan jenis terbanyak dibanding kilang yang lain. Dengan kapasitas produksi mencapai 348.000 BPSD, UP-IV Cilacap sangat bernilai strategis karena memasok 34% kebutuhan bahan bakar nasional atau 60% kebutuhan bahan bakar di pulau Jawa. Kilang ini juga merupakan satu-satunya kilang yang memproduksi aspal dan base oil untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur di tanah air.
                   UP-IV Cilacap memiliki tiga kilang untuk memproduksi masing-masing demand dari konsumen. Tiga kilang tersebut adalah:

                   I. Kilang Minyak I
                      Pembangunan kilang minyak I dimulai pada tahun 1974 dengan kapasitas mula-mula 100.000 BPSD dan resmi beroperasi pada tanggal 24 Agustus 1976. Merespon tingginya permintaan konsumen, kilang minyak I meningkatkan produksinya melalui debottlenecking project pada tahun 1998/1999. Kilang minyak I akhirnya mampu berproduksi 18% lebih banyak dari kapasitas awalnya. Sebanyak 118.000 BPSD dihasilkan dari kilang minyak I.
                       Kilang minyak ini didesain secara khusus untuk memproses bahan baku minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Mengapa dirancang untuk mengolah crude oil dari Timur Tengah? Karena selain untuk mendapatkan produk jadi berupa BBM, kilang minyak I diharapkan mampu menghasilkan bahan dasar minyak pelumas (lube oil base) dan aspal mengingat karakter minyak mentah dalam negeri tidak cukup ekonomis untuk produksi tersebut.

                   II. Kilang Minyak II
                       Pada tahun 1981, kilang minyak II dibangun untuk menjawab meningkatnya konsumsi bahan bakar dalam negeri. Peresmian kilang minyak II dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 1983 dengan kapasitas produksi sebesar 200.000 BPSD. Bersamaan dengan debottlenecking project kilang minyak I, proyek yang sama di tahun yang sama juga dilakukan untuk kilang minyak II. Peningkatan kapasitas sebesar 15% menjadi 230.000 BPSD berhasil dilakukan pada kilang minyak II. Kilang minyak II mengolah minyak "cocktail" yaitu campuran minyak mentah dari dalam negeri dan luar negeri.

                   III. Kilang Paraxylene
                       Kilang ini dibangun pada tahun 1988 dan resmi beroperasi tanggal 20 Desember 1990. Kilang ini menghasilkan produk NBM dan Petrokimia. Kilang ini dibangun karena mempertimbangkan hal-hal seperti tersedianya bahan baku yang cukup berupa Neptha dari kilang minyak II, adanya sarana pendukung berupa dermaga tangki dan utilitas, serta potensi pasar yang menjanjikan baik dari dalam maupun luar negeri.

                      Varian produk yang dihasilkan oleh UP-IV Cilacap antara lain:
                      1. Aspal
                      2. Heavy Aromate
                      3. Lube Base Oil
                      4. Low Sulphur Waxy Residu
                      5. Minarex
                      6. Paraffinic Oil
                      7. Paraxylene
                      8. Slack Wax
                      9. Toluene

          4. UP-V Balikpapan

          Refinery Unit V Balikpapan
          Refinery Unit V Balikpapan
                  Balikpapan, kota pantai dengan kontur bukit di Kalimantan Timur ini dikenal sebagai salah satu kota minyak di Indonesia. Terkenal dengan Blok Mahakam yang dioperasikan oleh Total Indonesie dari Perancis, di kota ini juga dibangun fasilitas pengolahan minyak mentah yang dikenal dengan UP-V Balikpapan.
                UP-V Balikpapan didirikan di teluk Balikpapan dengan luas area 2,5 KM2 dengan kapasitas produksi mencapai 253.600 BPSD. UP-V memiliki dua kilang yaitu kilang Balikpapan I dan kilang Balikpapan II. Kilang Balikpapan I sudah dibangun sejak tahun 1922 oleh British Petroleum menindaklanjuti temuan sumur minyak di Sanga-sanga tahun 1897. Kilang Balikpapan II mulai dibangun pada tahun 1981 dan mulai beroperasi tanggal 1 November 1984.

          5. UP-VI Balongan

          Refinery Unit VI Balongan
          Refinery Unit VI Balongan
                UP-VI Balongan dibangun pada tanggal 1 September 1990 yang awalnya dinamakan proyek EXOR (Export Oriented Refinery) dan mulai beroperasi pada bulan Agustus 1994. Kapasitas kilang ini mencapai 125.000 BPSD. Kilang UP-VI Balongan mendapat bahan baku minyak mentah dari Duri, Riau sebesar 60% dan Minas Dumai 40%. Selain itu juga menggunakan gas alam (LNG) sebesar 18 mmscfd untuk proses produksi yang diperoleh dari Daerah Operasi Hilir (DOH) Jawa bagian Barat lapangan Karangampel, Indramayu.
                  Sejak tahun 1970 minyak dan gas bumi dieksploitasi di daerah ini. Sebanyak 224 sumur berhasil digali dan berproduksi antara lain sumur Jatibarang, Cemara, Kandang Haur Barat, Kandang Haur Timur, Tugu Barat, dan Lepas Pantai. Ada tiga pemasok bahan baku kilang VI Balongan ini antara lain minyak mentah Duri (Riau), minyak mentah Minas (Dumai), dan gas alam dari Jawa Barat bagian Timur sebesar 18 million metric standard cubic feet per day (mmscfd).
              Produk dari kilang VI Balongan sampai saat ini adalah bahan bakar mesin jenis Premium, Pertamax, Pertamax Dex, Pertamax Plus, Solar, Kerosene (Minyak Tanah), LPG, dan Propylene.

          6. UP-VII Kasim

          Refinery Unit VII Kasim
          Refinery Unit VII Kasim
                  Unit pengolahan ini berlokasi di wilayah timur Indonesia, tepatnya di desa Malabam, kecamatan Seget, kabupaten Sorong, Papua. Unit ini tepat bersebelahan dengan Kasim Marine Terminal (KMT) milik Petrochina, 90 kilometer selatan kota Sorong.
                  Kilang Kasim yang berkapasitas produksi sebesar 10.000 barel/hari mendapat pasokan bahan baku berupa crude Walio (60%) dan Salawati (40%) dan menghasilkan produk antara lain fuel gas (969 barel/hari), Premium (1.987 barel/hari), Kerosene (1.831 barel/hari), Solar (2.439 barel/hari), dan residu sebanyak 3.390 barel/hari.

                    Lalu, di manakah UP-I?? Heheheh... Sekian dulu dari penulis. Semoga informasinya bermanfaat...